Kisah Dari Timur Indonesia I
04.33Di bawah pohon mangga, di suatu kantor di Ternate, aku menulis cerita ini. Cerita tentang sebuah negeri yang kaya namun miskin. Negeri yang subur, tapi tandus. Negeri yang penuh berkat, tapi tak berguna. Mengerikan sekali prolognya? Bukankah sebuah prolog mengantarkan pembacanya untuk penasaran dan mencari tahu kelanjutan ceritanya? Demikian pula tulisan ini, yang mencoba menjaring pembaca di luar sana untuk mau membaca kisah ini.
Ternate, 24 Oktober 2020
Sudah 24 hari aku berada di tempat ini. Mengagumi kekayaan alamnya, kelezatan makanan lautnya yang jarang ku makan lantaran sulit sekali menemukan rumah makan yang menjual ikan dan cumi. Ah, sayang sekali yang kutemukan malah sepotong ayam dengan tahu dan tempenya. Tidak jauh berbeda dengan kampung halamanku. Belum lagi ketika aku berbicara dengan penjualnya, Lah, Japemethe. Sungguh suatu tanah di Timur Indonesia yang berisikan banyak pendatang, di kaki Gunung Gamalama.
Dan tulisan ini akan menceritakan tentang bagaimana seorang anak bungsu yang mencoba berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Terkadang aku merasa bersalah karena aku memilih untuk jauh dari keluargaku. Aku pergi teramat jauh ke Timur Indonesia. Melepaskan apa itu yang kusebut dengan privilege. Meninggalkan apa itu yang kusebut kenyamanan. Serta menjauhkan diri dari apa yang kusebut rumah.
Tanah baru ini berhasil mengubah pikiranku tentang apa itu bakat, apa itu kepandaian, apa itu talenta. Semua terjawab ketika aku berada di tanah ini. Tempat dimana aku memikirkan ulang atas apa yang aku miliki. Rupanya aku bukan siapa-siapa. Talentaku bukanlah apa-apa disini. Bakatku bukanlah sesuatu yang luar biasa disini. Bukan. Bukan karena pekerjaanku yang berat. Bukan pula karena pekerjaanku yang jauh berbeda dengan apa yang kupelajari di sekolah dan di kampusku dulu.
Namun teman-temanku disini. Mereka yang jauh dari kata privilege itu jelas membukakan mataku. Jauh dari apa yang disebut mudahnya akses internet. Jauh dari apa yang disebut kemajuan teknologi. Tunggu dulu, aku di kota btw. Iya, kota, namun di Timur Indonesia. Dengan kekayaan alam yang melimpah ruah dan segala warisan budayanya. Sungguh, aku tinggal di kota, bukan pedalaman seperti Sibandang, Tapanuli Utara, yang jauh dari apa itu peradaban dan koneksi internet 4G. well aku nemu 4G sih di dermaga Sibandang.
Ok lanjut. Jadi mari kita bahas apa itu privilege. Privilege merupakan suatu hak istimewa kalau kata google. tapi biarkan aku mendeskripsikannya dengan kalimatku sendiri, apa itu privillage. Bagiku privilege merupakan sebuah jalan pintas menuju apapun tujuan didepanmu. Seperti sebuah jalan tol, kamu bisa pergi ke tujuanmu tanpa hambatan, dan lebih cepat daripada ketika kamu harus melalui jalanan biasa. Kadang jalanmu berlubang, tidak beraspal, banyak traffic light, macet, dan banyak aral melintang di depannya. Demikian pula dalam hidup setiap manusia. selalu ada aral melintang di depannya. Entah akses air bersih yang sulit, tingginya harga bahan makanan pokok, kualitas pendidikan yang buruk, akses informasi yang lambat (bahkan harus bersaing dengan berita palsu), dan tersandung adat budaya yang terlalu kaku.
Sungguh, tempat baruku ini sebenarnya tidak begitu jauh dengan yang namanya akses pendidikan, air bersih dan bahan pokok yang terjangkau. Namun tetap saja, privilege itu tidak bisa dirasakan semua orang. Terkhusus mereka yang jauh dari pusat kota. Ada satu teman kerjaku, sebut saja Mawar namanya. Seorang pengungsi dari pulau sebelahnya sebelah pulau ini. Ia dan keluarganya merantau jauh ke tanah ini karena konflik agama di masa lalu.
Pernah suatu hari ia bercerita padaku tentang masa kecilnya yang bagiku sangat mengerikan. Dimana Ayahnya dulu harus berperang melawan mereka yang memiliki identitas keagamaan yang berbeda dengan keluarganya. Ia bercerita, bagaimana ketakutan dan kekacauan saat itu membuat keluarganya harus mengungsi jauh ke pulau ini. Akupun impressed, kok bisa anak ini ceritanya B aja kaya ga ada trauma samsek. Well, mungkin saja saat itu ia berhasil menyembunyikan emosinya, atau ia telah berhasil berdamai dengan keadaan. Sungguh anak yang luar biasa.
Ia pun bercerita bagaimana privilege di pulau ini jauh dari jangkauannya saat itu. Lantaran karena dia diasingkan karena statusnya sebagai pengungsi perang. Mungkin ini yang dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah konflik. Ketakutan, terusir, terusik, dan tidak ada kepastian bagi mereka di masa depan. Dan temanku ini mengajarkanku satu hal, bahwa tanpa privilege pun setiap manusia tetap bisa hidup. Namun pertanyaannya adalah, apa iya semua orang bisa bertahan tanpa privilege? Dan kini pertanyaan tersebut juga turut menyerangku. Apa iya, aku bisa sampai sejauh ini tanpa privilege ku sebagai anak Jawa yang tinggal di tengah peradaban maju, tidak ada konflik yang berarti, dengan akses kesehatan, pendidikan, pangan yang terbaik, murah dan sangat layak dimiliki oleh setiap orang?
Akhirnya, niatku untuk mengkaji tentang apa itu privilege pun kandas, karena aku pun merasa tidak pantas untuk berkomentar mengenai privilege itu sendiri. Karena aku adalah satu diantara produk-produk yang dihasilkan oleh privilege itu sendiri. Aku hanya dapat mengangkat topi dan memberikan hormat pada mereka yang mampu bertahan hidup tanpa privilege.
Bagi kalian yang masih hidup didalam privilege itu sendiri, well, cobalah untuk melepaskannya sesekali. Atau privilege itu seperti rantai yang tak pernah putus ya? Bahkan apa yang membawaku ke tanah ini sepertinya adalah privilege yang kumiliki. Jika temanku ada di pulau ini karena konflik, maka kontras sekali dengan diriku yang ada di pulau ini karena pendidikanku di Jawa yang sangat mumpuni.
0 komentar