"Kamu dulu kuliah dimana?"
"Kampus Biru."
"Wah, keren! Pasti kamu anaknya @#$^$@^#*$^!*$(%^#!, ya?. Besok setelah lulus, kamu akan menjadi *&*^@@$(%&#(@$."
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengernyitkan dahi.
Mungkin perasaan semacam ini pernah dirasakan para mahasiswa maupun alumni kampus Ivy League versi Indonesia. Pernah ga sih kamu merasa antara bangga tapi juga sakit hati. Menjadi korban stigmatisasi masyarakat karena kamu lulusan satu di antara universitas terbaik di Indonesia.
Well, aku pernah mengalaminya. Suatu hari setelah lagu Gaudeamus Igitur dikumandangkan (padahal aslinya gending Jawa yang berkumandang saat itu.) sempat terbesit dalam benakku, "Habis ini aku mau ngapain, ya?". Pastinya setiap orang yang sudah melalui fase ini akan menjajakan gelarnya pada mereka yang sudi untuk membelinya. Atau mungkin menambah nilai jual dengan belajar lagi. Hal itu juga yang kulakukan ketika sudah lulus dari bangku perkuliahan. Ada banyak lowongan yang sudah kulamar, namun banyak juga yang menolakku untuk bekerja disana.
Sebelum cerita lebih lanjut, mari kita mundur sejenak ke masa-masa SBMPTN dan UTUL Mandiri. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku bukan tipe anak yang rajin belajar dan ikutan bimbel. Aku belajar sendiri atas dasar ga mau kalah dari kakakku yang juga kuliah di kampus Ivy League. Jiwa-jiwa ambisiusku bergejolak, makanya aku semangat banget untuk mempersiapkan ujian PTN tersebut, lantaran gagal SNMPTN.
Di tahun pertama setelah lulus SMA, sebenarnya aku gagal diterima di kampus impianku. Aku baru masuk di tahun kedua. Aku cuma diterima di Sekolah Vokasinya saja, bukan S1 dengan jurusan impianku. Waktu itu aku juga kuliah double di Universitas Swasta untuk jurusan yang aku inginkan.
Namanya juga ambisius, dendam kesumat gara-gara ga diterima di jurusan impian, maka kuberanikan diri untuk ikut Ujian Mandiri di tahun kedua. Hasilnya? Puji Tuhan Lolos! Senangnya bukan main. Akhirnya aku bisa jadi lulusan kampus terbaik dengan jurusan yang sesuai dengan keinginanku. Ya, meskipun tidak sesuai banget, karena Bapak tidak mengijinkan aku untuk mengambil jurusan yang sama dengan beliau, kala itu. But i'm fine with that.
Setahun berlalu dan kuliahku semakin sulit saja. Tapi aku enjoy sih, dalam melakoninya. IPK-ku ga pernah dibawah 3, selalu bagus. Bahkan aku sangat bersyukur karena bisa lulus dengan predikat cumlaude, walaupun mepet banget. Berselempang dobel adalah harapan bapakku selama ini, sekaligus bukti bahwa aku bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan yang kuambil.
Selanjutnya beban sosial yang harus kutanggung, dimulai setelah hari kelulusanku. Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku bukanlah someone karena lulusan Univ terbaik di negeri ini. Aku sama saja dengan mereka yang menjajakan gelar pada perusahaan maupun organisasi yang sudi melakukan barter denganku. Dengan gelar sarjana yang kuperoleh dalam empat tahun. Hanya saja, beban psikis itu lebih sakit lagi lantaran aku harus berdampingan hidup dengan omongan dan anggapan orang tentang lulusan kampus-kampus terbaik.
"Bukannya kamu dari ----, kok masih belum kerja?"
"Bukannya kamu lulusan ----, kok kerjanya cuma di ----?"
"Bukannya waktu kuliah kamu aktif di -----, seharusnya kan kamu sudah kerja di ----"
Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan serupa yang aku dengar dari mereka. Tidak kurang-kurangnya diriku memoles diri dengan ikut kegiatan volunteer, jadi panitia event, dan masih banyak lagi, untuk meramaikan CVku yang waktu itu sudah dua halaman lebih. Tapi semakin kesini, aku merasa itu juga ga guna-guna banget.
Sampai pernah aku hopeless gara-gara lamaran kerjaku ditolak sama banyak perusahaan. Teman-teman seangkatanku yang sudah lulus pun, sudah pada kerja. Aku merasa seperti orang yang bego dan ga ngerti apa-apa. Kadang aku merasa, gelar yang kuperoleh semakin membuatku tidak bangga, karena stigma dan ekspektasi orang-orang.
Pernah suatu ketika,saat aku kerja di sebuah startup sebagai salah satu telemarketing. Salah satu teman probationku yang satu angkatan dan satu alumni denganku, menceritakan hal yang sama. "Iya, kadang aku juga malu kalau ditanya sama saudara. Kerja dimana? Kok sampai sekarang masih belum kerja? Padahal kamu lulusan kampus bagus loh?" Saat itu posisinya dia sedang probation, tapi ga ngaku kalau sudah kerja. Katanya malu sama kerjaan yang dia jalani saat itu. Sebagai lulusan SMA Teladan dan juga sebagai seorang Sarjana Teknologi Pangan, ia malu jika harus bekerja sebagai telemarketing. Namun begitulah kenyataan hidup. Tidak ada yang bisa mengelak dari pilihan yang dihadapkan. Kalo ga diambil nganggur, diambil tapi kerjanya ga sesuai passion. Kalau mau cari yang sesuai passion, tambah lagi waktu tunggunya.
Hal serupa pun masih berlanjut setelah aku bekerja di suatu organisasi sosial, aku pun menerima beban tambahan dari managerku, yang kalau ngenalin aku ke orang-orang itu pasti ada tambahan, "dia ini lulusan -----, loh." Dalam hati aku cuma bisa bilang "Lu ngapain sih, bawa-bawa almamater gue, pak?" Aku bilang gini bukan bermaksud sombong, ya! Tapi ketika kamu mencantumkan almamaterku di setiap perkenalan, maka itu akan menerbangkan setinggi langit ekspektasi orang-orang kepadaku.
Kamu tidak tahu beban moral dan psikis yang disandang para lulusan kampus-kampus ini. Ketika mereka gagal atau jatuh, tuh ada aja mulut orang dan anggapan-anggapan reseh menguntit di belakangnya. Mungkin buat mereka yang openminded bisa ber-positive thinking ya, dengan beranggapan "namanya juga tahun pertama, masih belajar." Tapi kenyataannya, orang-orang sudah terlanjur berekspektasi lebih kepada kami-kami ini. Tolong-lah, kami hanya manusia biasa yang, beruntung bisa kuliah dan lulus di kampus-kampus itu. Tolonglah, beri kami kesempatan yang sama untuk belajar dan menghela nafas dengan ritme yang sama dengan mereka-mereka yang ga lulus dari kampus-kampus lainnya.
Buat kalian yang sering nge-judge para lulusan Ivy League dengan 1001 anggapan bahwa mereka, fa fi fu, dan syalalala. Please, jangan tambahkan beban moral semacam itu kepada kami. Kalian aja ditanya "udah kerja apa belum?", aja masih sering over sensitive dan kesel. Lebih-lebih kami, yang sekalinya ditanya tuh, merasa terhina kalau jawabannya "belum."
Buat kalian, para dedek-dedek Mahasiswa dan fresh graduate dari kampus Ivy League. Tetap semangat, karena halang dan rintang masih akan terbentang nun jauh kedepan, tanpa tahu titik akhirnya. Percayalah, orang tua kalian adalah orang-orang yang akan tetap bangga, bagaimanapun jadinya dirimu nanti.
Buat adik-adik SMA yang mau masuk kampus-kampus Ivy League, pikirkan lagi keputusanmu untuk kuliah disini. Juga, percayalah kalau bimbel saja tidak cukup untuk membuatmu bertahan menghadapi ujian di kampus-kampus ini. Hanya iman dan rasa tidak peduli-lah yang akan menyelamatkan psikis kalian, dari stigma-stigma masyarakat, tentang alumni kampus-kampus ini.
Pada akhirnya aku cuma bisa bilang, Urip iku sawang sinawang, yang kalau diartikan "hidup itu saling melihat satu sama lain". Maksudnya apa, sih? Maksudnya dalam hidup itu setiap manusia saling melihat kehidupan orang satu sama lain, dan membandingkannya. Hidup itu tidak selamanya seperti yang kita bayangkan. Jika kita memilih "ini" mungkin jadinya akan seperti "itu". Pun, demikian sebaliknya. Namun setiap orang yang melakoninya kan berbeda-beda. Bisa jadi pilihan yang sama namun akan membuahkan hasil yang berbeda. Percayalah, ga semua rumput tetangga itu se-hijau yang kita bayangkan.
Life is surprise! We never know what's gonna happen to us. Kita cuma bisa lakukan yang terbaik, dan sesekali abaikanlah omongan orang.