Untuk tulisan ini aku mau cerita tentang pengalamanku ikut MUN. Apaan sih itu MUN? Bagi temen-temen Hubungan Internasional pasti ngerti lah seberapa borosnya kegiatan "lomba" ini. Ditambah lagi semakin prestige penyelenggaranya, semakin mahal biayanya dan "wow" banget. Ok, MUN adalah singkatan dari Model United Nations. Kali pertama aku ikut acara beginian adalah ketika aku sudah lulus kuliah. Aku tahu, ini telat banget, dan berdampak pada pembiayaan yang pada akhirnya harus aku tanggung sendiri, karena kampus ga mau bayarin orang yang udah pendadaran dan ga bayar UKT lagi. So, Bye proposal!
Selanjutnya apa saja sih yang dilakukan peserta MUN? Pada hari H MUN, peserta akan berperan layaknya perwakilan negara dalam suatu forum di MUN, yang kita sebut dengan council. Dalam satu pagelaran MUN akan ada beberapa council, satu orang akan menjadi perwakilan suatu negara dalam satu council, jadi ga bisa pilih 2 council. kalo 2 negara, aku ga paham cara kerjanya gimana, tapi bisa bikin tim gitu, dan aku agak ga begitu paham untuk yang satu ini, tergantung kebijakan penyelenggaranya mungkin?
Nah, sebagai perwakilan dari suatu negara, maka peserta MUN, yang berikutnya disebut Delegate, karena mereka "didelegasikan" oleh suatu negara untuk menjadi wakil di council tersebut. Para delegate ini harus bisa memainkan peran mereka, semacam bermain drama gitu di tengah rapat PBB. Well, kalau sepengalamanku kemarin pas ikut MUN di Thailand, aku kebagian negara Papua New Guinea, yang selanjutnya aku sebut PNG. Aku dapat council 6 : Clean Water and Sanitation. Council ini bisa beda-beda di setiap pagelaran MUN. Kebetulan MUNku mengangkat tema Sustainable Development Goals. Penyelenggaranya dari International Global Network, dan pihak penyelenggara ini punya banyak versi MUN dari Global Goals MUN (tempatku MUN kemarin), Asia Youth MUN, dan Bali International MUN kalo ga salah, dan masih ada lagi mungkin, aku ga tau.
Lalu apa aja tugasku selama ikut MUN? Ya rapat untuk memecahkan masalah perairan di muka bumi ini. Kegiatannya lebih ke pembelajaran problem solving, belajar untuk speak up kalau kamu punya ide bagus, dan yang paling menarik sekaligus menantang adalah DIPLOMACY! Yup! Berdiplomasi, cari teman atau sekutu yang sekiranya satu pemikiran sama negaramu. Nanti pura-pura musuhan sama delegasi negara sebelah yang beda blok sama negaramu. Tapi tenang, ini semua hanya bagian dari drama. Di luar ruang rapat, kita biasa aja kok, makan, ghibah, tukar kontak, follow-followan IG, selfie, lirak-lirik cari gebetan (siapa tau kecantol beneran kan? 3 hari di hotel PDKT bisa lah.) dan apapun yang asik dan bisa dilakukan rame-rame. Aku cukup menyesal ga ikut pool party-nya anak-anak India. Padahal temenku yang sama-sama dari UGM ngajakin minum-minum cantik sambil senang-senang di kolam, di malam terakhir MUN. Aku keburu capek sama closing ceremony yang cukup panjang itu.
Lanjut berikutnya apa sih yang harus disiapkan untuk bisa ikut MUN selain paspor dan administrasi dan flight itinerary dan syalalalalalalnya? Ada yang perlu disiapkan oleh masing-masing delegasi, yaitu position paper. Yup! seberapa pentingnya sih position paper ini? Menurutku ini penting banget, karena dengan mempersiapkan position paper ini kamu tahu sebagai perwakilan negaramu, kamu mau memperjuangkan apa untuk kesejahteraan negaramu dan negara-negara di dunia, khusunya yang terkait dengan air (mengingat council yang ku pilih adalah Clean Water and Sanitation).
Untuk membuat Position Paper atau anak-anak sering bilang Pos-Pap, kamu harus melakukan riset terlebih dahulu. kamu harus tahu negaramu yang mendelegasikanmu itu seperti apa? Kamu harus tau kondisi sosialnya, geo politiknya, kesehatan, ekonomi, dan semua aspek yang berkaitan mengenai kebijakan dan pemerintahan serta posisi mereka di kancah internasional. Kalau tempatku karena dia anak Commonwealth, jadi ada kemungkinan masih mendapat asupan bantuan dari Kerajaan Inggris, lalu karena GDP-nya masih rendah, dan dikatakan belum maju, kemungkinan dia di kancah internasional masih anak bawang gitu lah. Lalu kondisi perairannya gimana? Nah, ini yang harus kamu perdalam untuk membuat pos-pap yang bagus dan sesuai sama kondisi negarmu, apa yang mau kamu pecahkan dari masalah-masalah air yang ada di negaramu, kekeringan kah? Kelangkaan? Atau air yang terkontaminasi limbah? Ada banyak masalahnya dan itu bagaimana dampaknya untuk ekonomi, kesehatan, dan sosial? Kamu berusaha memecahkannya dalam 2 halaman position paper. Kok cuma sedikit? Ya memang kebijakannya seperti itu dari penyelenggara, lagi pula ga banyak loh yang survive mengerjakan 1 halaman saja. Bahkan ada temanku dari council sebelah yang ga ngerjain pos-pap mereka. Dan dengan tidak mengerjakan pos-pap maka kamu akan kehilangan 1 poin atau paling tidak kesempatan untuk dapat Award Best Position Paper.
Apa saja sih yang dinilai dari position paper? Ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan apakah pos-pap mu sebagus itu untuk dikasih penghargaan. Kamu harus tulis pos-papmu secara lengkap, jelas, runtut, apa yang kamu sampaikan juga sesuai dengan topik, grammarmu juga diperhatikan (dan grammarku sepertinya parah), diksi dan kesesuaian penggunaan kata, kalimat dan paragraf yang runtut dan enak dibaca. Ada beberapa kosakata formal yang harus kamu gunakan dalam penyusunan position paper, dan sayangnya kemarin aku mengabaikan itu, jadi ya aku ga dapat award itu, yang menang temanku dari Nepal.
Selama rapat berlangsung, kamu ga boleh mainan HP, guna melangsungkan MUN secara tertib dan fokus, maka tidak boleh ada gangguan dari luar. Ini yang kemarin bikin aku sempat ragu mau ikut MUN. Ga bisa buka HP yang artinya ga bisa buka kamus. Padahal Bahasa Inggrisku masih standar dan kadang-kadang aku suka grogi dan lupa mau bilang apa, dan suka lupa Bahasa Inggrisnya apa. Tapi waktu kemarin MUN aku sempet pakai sih, soalnya banyak teman-temanku yang juga pakai HP buat buka google translate jadi ga masalah. Tapi aku bersyukur karna aku ga serta merta buka hp dan kamus terus-terusan, dan aku juga bisa berkontribusi banyak selama konferensi (asik nih diksinya) ini berlangsung.
Faktor penilaian lain ada pada keaktifan selama konferensi berlangsung. Apakah kamu hanya mengangkat placard ketika voting atau tidak. Atau seberapa sering motion-mu dinyatakan pass yang artinya mosi atau topik yang ingin kamu bahas disetujui oleh setengah lebih dari peserta konferensi. Aku mengajukan mosi tentu saja, tapi ga ada yang pass, cuma karena aku cukup reseh dan suka ngomong, jadi aku selalu angkat placard dan menyatakan pendapat di setiap mosi yang dibahas. Jadi aku ga diem-diem bae selama konferensi.
Rasanya gimana sih ngomong di depan umum kaya gitu? Ya awalnya takut, nervous dan banyak lah. Tapi aku tetap jalani itu, mau ga mau. Ya kali aku bayar MUN mahal-mahal cuma buat nikmati fasilitas kasur, ketemu teman, dan makan-makan enak. Aku bisa melakukan hal lebih, ya kenapa enggak? Hasilnya selama konferensi aku berhasil meyakinkan banyak orang untuk gabung ke blok-ku buat memecahkan masalah perairan ini rame-rame. Yeah!!! PNG winning their heart!!! Kami bersama-sama menyusun draft resolusi. Ya ga semua juga sih, yang bener-bener mikir di blok ku tuh Delegasi Mexico, Malaysia, Nigeria, PNG, USA, Nepal, dan lainnya tetep mikir sih, cuma jatuhnya iya-iya aja. Dan dari MUN ini aku jadi temenan deket sama Delegasi Nigeria, Pamela namanya, asalnya dari Zimbabwe. Asik ga sih? Asik dong!
Ok lanjut, lalu gimana nasib Draft Resolution ku? Ya akhirnya pass dong waktu di council! Kenapa? karena lebih dari 50% delegasi memilih draft resolusi blokku. Kenapa? Ya karena emang pendukung blokku lebih dari 50% peserta konferensi, ya pastinya menang lah, dan pada pilih draft resolusi blok yang mereka tanda tangani. Ah... rupanya begitu cara kerja diplomasi, asik juga.
Selama ikut acara MUN, hal yang paling menyenangkan buatku adalah bisa kenal sama teman-teman baru yang bukan cuma orang Indonesia aja, tapi dari berbagai negara. Hal itu terbukti, hubunganku sama Pamela ga cuma selama di MUN tapi masih berlanjut sampai sekarang, dan aku masih sering chat sama dia. Kita masih sering ngobrol tentang geopolitik dunia, masalah ekonomi dan sebagainya di suatu grup chat yang dia bikin di WhatsApp, dan aku masih sering baca dan bales chatnya dia.
Bagiku MUN pada akhirnya bukan sebuah kompetisi untuk memenangkan salah satu dari banyaknya penghargaan yang disediakan. Bagiku MUN awalnya seperti pertarungan besar, yang mengharuskan kamu mempersiapkan amunisi. Namun pada akhirnya MUN hanya menjadi tempat kamu belajar bersama dan memecahkan masalah lokal di negaramu yang diangkat menjadi isu global untuk kamu selesaikan bersama. Apa yang kamu pelajari sebagai persiapan MUN pada akhirnya tidak sia-sia karena kamu dapat menemukan perspektif baru selama diskusi berlangsung. Itu artinya kalau setiap delegasi belajar dan bisa mengutarakan pendapat saat konferensi berlangsung, maka akan ada informasi baru yang tersampaikan dan dapat menjadi pertimbangan, mengapa isu seperti itu perlu dibahas. Jadi yang punya rencana ikut MUN, paling enggak belajar dulu lah sedikit, biar ga bego-bego amat waktu konferensi berlangsung. Biar ada berantem-berantemnya dikit dan yang ngomong ga cuma delegasi yang itu-itu aja. Kita kan juga mau dengar perspektif dari negara lainnya.
Diakhir acara MUN ada closing ceremony, yang isinya parade bangsa-bangsa, dimana banyak orang menampilkan budaya dari negara mereka. Teman sekamarku, Meriam jadi salah satu peserta parade. Dia asalnya dari Mesir dan waktu parade dia pakai pakaian macam Cleopatra. Lalu waktu closing ceremony banyak delegasi yang pakai pakaian khas daerah mereka. Delegasi Indonesia? Oh, jelas, Bhineka Tunggal Ika Banget. Banyak yang pakai baju adat daerah mereka. Sampai-sampai banyak delegasi yang excited karena pakaian daerah Indonesia ada banyak dan beragam sekali. Tapi ada juga tipe delegasi simpel semacam aku dan Yoel. Yoel cuma pakai batik kaya mau kondangan biasa. Aku? Ya, pakai turtle neck, rok span, simpel banget kan? Tapi aku pakai Ulos dan sor tali sebagai bando, jadi kelihatan kaya orang Batak tapi ga niat dan-dan aja. "So Simple!" Kalau kata roommate-ku yang orang Aceh.
Acara Closing ceremony berlangsung sangat meriah. Dibuka dengan parade budaya, lalu speech dari ketua penyelenggara. Lalu makan malam sambil foto-foto di backdrop. Aku sama Yoel adalah orang yang b aja kalau masalah foto. Kalau delegasinya ga pakai kostum yang menarik, kita ga mau foto. Lagi pula dari pada foto-foto mending aku makan deh. Makanannya enak. Lebih enak dari pada opening ceremony. Aku makan steak sama mashed potato, tapi dikit-dikit makannya, biar bisa makan creamy spinach dan salad juga. Haha! Aku suka bagian makan-makan kaya gini! Dan waktu dinner kaya gini, aku suka perhatikan orang-orang yang lagi makan. Sialnya aku menemukan kebiasaan jelek orang Indonesia yang kebawa dong. Ambil makan banyak-banyak, kenyang, ga dihabiskan. Padahal kan sayang banget. Untung aku kalo makan dikit-dikit. Nanti kalau mau tambah, tinggal ambil lagi. Dan itu terjadi sama french fries dan creamy spinach yang aku ambil terus. Sampai Yoel mempertanyakan apakah aku lapar atau emang doyan. Jawabannya, karna aku lapar dan doyan. he he.
Habis makan-makan ada acara hiburan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, lalu juga ada pengumuman awards untuk setiap council dan Best Delegate juga penentuan Best of the Best Delegate. Yang dapat award Best of the Best Delegate dari Indonesia, aku lupa namanya siapa, tapi dia dari council 4 : Quality Education. Dari Clean Water and Sanitation yang dapat Best Delegate adalah Sam, orang Malaysia, yang jadi delegasi Mexico, satu blok sama aku. Lalu aku dapat apa? Dapat senang-senangnya dan hadiah hiburan. Yes, aku tidak memenangkan terbaik apapun di councilku, tapi aku dapat Honorable Mention. Lumayan lah, hadiah hiburan karena sudah cukup berusaha selama konferensi. Dapet placard? Dapet kok dapet, sertifikat juga. Ya, lumayan lah buat dipajang di rumah. Haha..
Lalu apakah aku akan daftar lagi setelah ini? Well sepertinya aku belum bisa menjawab itu. Mengingat biaya pendaftarannya yang mahal dan aku masih cari-cari kerja, jadi untuk saat ini enggak dulu deh. Tapi aku akan sangat senang kalau besok sudah kerja, kantorku kasih ijin untuk ikut dan sekalian yang bayar biaya pendaftarannya. Aku ga akan kecewakan kantorku deh, yakin. Dan efek dari ikut MUN ini membuatku semakin suka belajar tentang Community Development, khususnya untuk masalah air dan edukasi anak. Aku tidak menyesal pernah ikut konferensi semacam ini. Dan aku berharap, aku bisa kerja di UNDP agar masih bisa terus belajar tentang pembangunan di masyarakat, untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di bumi ini.