Di Batas Cakrawala
04.31Sesekali aku pernah bertanya, ada apa di batas cakrawala sana. Hal itu terlintas ketika aku menatap cakrawala senja bersama teman-temanku sepulang kantor, Jumat kemarin. Secara random aku mempertanyakan tentang hari esok yang tak pernah kuduga akan seperti apa jadinya. Aku tahu, aku punya rencana untuk hari esok. Selalu ada ide dikepalaku untuk apa yang akan ku kerjakan di hari esok. Namun batas cakrawala itu membuatku mempertanyakan lebih dalam lagi. Ada apa di batas cakrawala sana??
Over the horizon kalau ga salah itu slogannya samsung ga sih? yang ternyata ada ringtonenya di hpku. Hal itu membuatku berpikir, bagaimana rasanya menjangkau dan menembus batas cakrawala itu sendiri? Selama ini aku hidup serba berkecukupan, tertata, melihat kemungkinan yang akan terjadi, tapi hanya sebatas jarak pandangku saja. Tak pernah aku menembus cakrawala itu. Rasanya aku terlalu lama berjalan di zona nyamanku. Aku berjalan di wilayah yang aku ketahui, yang aku pahami, dan sangat-sangat aku kuasai. Dari segi medannya, cara kerjanya, semuanya deh. Ga pernah rasanya aku menembus cakrawala itu sendiri.
Amel pernah bilang sama aku, katanya dari semua teman-teman di angkatan sosiologi 2015, aku adalah anak yang pemikirannya jauh ke depan. Dalam hati aku bertanya, "emang iya?" kayaknya aku selalu punya pikiran aneh-aneh gara-gara rajin diajak ngobrol dan baca buku aneh-aneh sama dosen dan teman-teman deh? Itupun aku masih tipe textbook banget. Artinya kan aku masih belum keluar dari zona nyaman itu sendiri. I'm not looking over the horizon. I'm stuck on my comfort zone.
But, after I get a job on an International NGO, I think I start to look forward, over the horizon. Ya, gimana enggak? Kalau ga look forward, ya mati aku? Pekerjaanku menuntutku melakukan hal demikian. Selalu waspada dan memahami resiko-resiko yang mungkin saja terjadi di masa depan. Tentunya dengan perhitungan matang dan logis, yang sialnya agak kacau ketika karakter intuitif ku sedang menguat. Ah, namun lagi-lagi aku melakukannya karena suatu tuntutan pekerjaan, bukan karena inisiatif ku sendiri.
Semakin hari aku selalu berpikir ke depan, keluar dari zona nyamanku, sejak aku meninggalkan tanah Jawa. Aku selalu mencari sesuatu di balik cakrawalaku sendiri. Mencari kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa aku lakukan untuk membangun Ternate bersama teman-temanku. Mungkin sejauh in aku masih dituntun oleh manajerku. Tetapi mau tidak tahu aku harus tetap mencari cara untuk memecahkan masalahku.
Aku belum pernah bicara hal ini ke Amel, atau ke siapapun tentang bagaimana aku belajar banyak hal. Tersandung berkali-kali. Berjalan tertatih-tatih. Ada banyak sekali struggling yang harus kuhadapi.
Pada akhirnya aku sadar, melihat jauh kedepan, tidak harus melihat lebih dari cakrawala kita. Perlahan kita akan melihat jauh kedepan, sembari kita berjalan. Tanpa sepengetahuan kita, ternyata kita telah melampaui cakrawala kita sebelumnya. Bahkan yang pertama menyadari hal itu bukanlah kita. Kadang orang lain yang lebih menyadari perubahan cara pandang kita. Itulah saat dimana orang merasa termotivasi dan berpikir bahwa kita telah melihat jauh melebihi batas cakrawala kita.
Lagi-lagi aku menulis random di blogku. Ada saja memang orang semacam aku ini. Suka berkhayal dan terlalu banyak berpikir. Sesekali aku harus bisa menceritakan pengalaman nyata, bukan hanya sekedar pemikiranku saja.
0 komentar