De Tjolomadoe : Jejak Kejayaan Industri Gula di Indonesia (Jalan-Jalan Ke Museum Pabrik Gula Solo, Jawa Tengah)

19.42


Jangan Sekali-kali melupakan sejarah, kata-kata Bung Karno tersebut selalu terngiang di kepala saya yang pada akhirnya membawa saya pada perjalanan ke tempat ini. De Tjolomadoe. Sebuah museum bekas pabrik gula Tjolomadoe di Surakarta, Jawa Tengah.


Pagi itu kami sekeluarga mempersiapkan perjalanan dari Jogja ke Solo yang menempuh waktu tiga jam lebih, karena kami harus mlipir jajan serabi Notosuman dan makan Soto Segeer Mbok Giyem. Sampai di Solo, kami memohon bantuan Erica (kami menamai mbak-mbak yang suaranya ada di Google maps dengan sebutan Erica) untuk menuntun kami ke De Tjolomadoe.


Panas! Adalah kesan pertama saya ketika sampai di kawasan museum ini. Museum Pabrik Gula Tjolomadoe ini masih tergolong baru karena baru saja diresmikan pada 18 Maret 2018 lalu. Tanaman di sekitar kawasan museum ini masih jarang, sehingga rasanya begitu panas dan gersang. 


Memasuki bangunan museum yang direstorasi, semua kesan pertama saya berubah drastis. Rasanya begitu siliirrr karena sistem pendingin udara yang masih baik sehingga panas diluar tidak terasa. Tiket masuk ke museum ini masih gratis. Kebersihan di lingkungan museum ini juga masih terjaga dengan baik. Fasilitas yang ditawarkan juga lengkap, terdapat cafe di bagian dalam museum ini, serta toilet yang bersih dan ada concert hall di bagian belakang museum ini dengan kapasitas mencapai 3000 orang. Pembangunan museum ini dilakukan secara bertahap, sehingga masih banyak area yang belum selesai dibangun, salah satunya penginapan yang terletak di dekat jalan keluar museum ini.


Museum ini dibagi menjadi beberapa kawasan seperti area Stasiun Gilingan, Stasiun Ketelan, Stasiun Penguapan, dan Stasiun Karbonatasi. Semua bagian tersebut direstorasi, sehingga tidak menghilangkan bentuk asli dari Pabrik Gula tersebut,


Dari perjalanan ini saya belajar bahwa industrialisasi di Indonesia sudah berlangsung sejak masa kolonialisme Belanda. Dan hari ini, Indonesia malah mengalami hal sebaliknya, yaitu deindutrialisasi, dimana banyak pabrik di Indonesia mulai tutup atau bahkan pindah ke negara lain yang biaya produksinya lebih murah. Upah buruh di negeri ini semakin tinggi, yang menjadikan biaya produksi lebih tinggi. Tidak heran jika banyak perusahaan asing memilih untuk memindahkan pabrik mereka ke negara lain, dimana harga upah buruh masih cukup rendah dan mampu menekan biaya produksi.


Kalau hal seperti ini terus berlangsung, lama-lama angka pengangguran terbuka di Indonesia semakin banyak, karena kurangnya kebijakan pemerintah yang mampu menahan para pemilik perusahaan asing tersebut memindahkan pabrik mereka. Jadi solusinya? Reindustrialisasi!


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Instagram