Cerita Dari Dalam Kamar II

05.14

Lagi-lagi aku menulis karena aku bosan terkurung di dalam kamarku sendiri. Covid-19 itu masih merajalela. Aku hanya bisa menikmati hiburan dari dalam rumah, sambil mencari-cari pekerjaan dari Kalibrr atau Jobstreet. Meskipun aku tergabung dalam salah satu NGO di Yogyakarta, namun tetap saja, aku harus mencari pekerjaan yang bukan hanya menghasilkan uang, tapi juga tempatku merintis karir.


Waktu luang yang tersedia di depanku rata-rata kuhabiskan untuk bermain game. Iya, Game! The Sims dan Line Pop II. Sesekali aku masih keluar rumah, untuk membeli bahan makanan yang habis bersama ayah ke Superindo. Kadang aku jajan ke warung Mbah Sud, untuk membeli jajanan kecil, sekalian mencari alasan agar tidak dirumah terus-menerus. Meskipun dianjurkan untuk tetap dirumah, namun aku masih iseng main ke rumah eyang yang hanya beda RT itu. Dengan berbekal masker berupa kain syal, aku masih suka jalan-jalan di sekitar kompleks.


Ada yang menarik menurutku ketika masa karantina seperti ini. Banyak ketidak taatan muncul diantara masyarakat kita, dan hal itu dilapisi dengan dalih untuk kepentingan bersama. Salah satu contohnya adalah pembentukan posko tanggap darurat Covid-19. Posko tersebut dibentuk guna apabila terdapat informasi mengenai apapun yang berhubungan dengan Covid-19 pada tingkat RW maupun Dusun. Di tempatku ada pada level RW. Posko ini sering digunakan untuk berkumpul. Iya, Berkumpul! Dimana akan ada banyak orang berada pada satu tempat yang sama, berkomunikasi satu sama lain. Dengan modal tempat seadanya dan tidak terlalu lebar, maka terjadilah kontak antar manusia yang berjarak kurang dari 1 meter.


Salah kaprah seperti ini kadang membuat saya geli sendiri. Negara bahkan dunia menganjurkan agar berjarak minimal 1 meter dengan orang lain sebagai upaya pencegahan penularan virus ini. Physical Distancing merupakan upaya pencegahan penularan virus ini. Tetapi sayangnya masyarakat kita kurang mengindahkan anjuran yang satu ini. Satu persatu orang mulai peduli untuk mencuci tangan dan menggunakan masker ketika keluar rumah. Tetapi untuk physical distancing? saya rasa belum sepenuhnya orang memahami ini.


Saya pun masih ingat, sekitar satu minggu yang lalu, saya dan ayah saya main ke rumah eyang, iseng mencari makan di sana karena mama belum masak. Seusai kami makan, ayah saya dan om duduk di teras depan rumah, datanglah salah satu teman om dan ayah yang merupakan warga RT sebelah, mereka duduk dan berbincang. apakah mereka memberi jarak? Ya, tentu saja! Tidak ada kontak fisik yang terjadi saat itu. Lalu beberapa menit kemudian, datang juga warga sebelah yang masih satu RT dengan om. ada kontak fisik? tidak juga. Hingga akhirnya datang pak RW ke rumah eyang. Saya kira pak RW mau membubarkan pertemuan tidak direncanakan ini. Namun ternyata saya salah, Pak RW juga ikut ngobrol.


Inilah yang membuat saya berpikir bahwa Physical Distancing memang cukup dijalankan karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, dimana ia tidak bisa dikurung di dalam rumah. Mereka butuh orang lain meski hanya sekedar ngobrol basa-basi tidak penting. Maka sangat tepat penggunaan kata Physical Distancing untuk menggantikan kata Social Distancing yang sebelumnya pernah digaungkan. Memang tujuan dari hal ini dilakukan adalah untuk mencegah penyebaran virus, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan kontak sosial dengan orang-orang di sekitar kita kan?


Berikutnya untuk masalah posko, well, itu cukup menggelikan sih sebenarnya. Saya rasa kalau membangun posko tanggap darurat, akan lebih baik jika tidak mengesampingkan aspek K3 yang dalam konteks Covid-19 ini adalah Physical Distancing itu sendiri. Sistem kerjanya pun juga cukup dibagi dalam beberapa shift, apabila posko tersebut memiliki ruang yang terbatas, sehingga masih terdapat jarak untuk melakukan physical distancing itu.


Buat kalian yang berada di dalam rumah, baik yang sedang wfh, masih sekolah, ngerjain skripsi, nge-game aja, atau apapun itu, tetap semangat dalam menjalani hidup. Kita semua tidak tahu Covid-19 ini kapan akan berakhir, tetapi jangan lupa untuk tetap bersosialisasi dengan siapapun di luar sana.


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Instagram