Makin Mahal, Makin Prestige, Makin Sayang

06.05


Pada akhirnya saya menyerah untuk menyelesaikan tulisan saya tentang buruh data yang seharusnya sudah tayang seminggu yang lalu. Well, akhirnya saya malah menulis tulisan ini. Ringan tapi berisi. Demikian harapannya. 


Valentine. Kasih sayang. Cinta. Punya pasangan. Setahuku ada tiga jenis kasih di dunia ini. Kasih Eros, kasih philia dan kasih agape. Kasih Philia merupakan kasih antar sesama, atau kasih yang menjadi dasar dari rasa persaudaraan, sedangkan kasih Agape merupakan kasih Tuhan kepada umatnya, maupun Kasih orang tua kepada anaknya. Terakhir kasih Eros, yang merupakan bentuk cinta antara dua manusia. Ketika kita ngomongin hari kasih sayang, biasanya hanya terbatas sama kasih eros, yang sifatnya untuk lawan jenis (sesama jenis juga boleh sih) dengan maksud menjalin hubungan yang spesial antara dua orang saja. Nah, kalau kaya gini ceritanya, apa iya 14 Februari yang disebut sebagai hari kasih sayang itu merupakan hari kasih sayang. Mengapa hanya sebatas kasih sayang yang semacam "itu"??


Lagi, ada pertanyaan muncul dari hari kasih sayang yang membuatku penasaran. Berapa keuntungan yang diraup oleh perusahaan cokelat, boneka, florist, restoran, bahkan hotel dalam satu hari Valentine? Well, aku yakin pasti banyak banget. Dan sialnya orang-orang juga kemakan iklan di media yang mengkonstruksi bahwa hari kasih sayang harus memberikan kado, berupa cokelat, yang pada akhirnya meningkat ke jenis barang-barang lainnya yang memiliki nilai jual tinggi, seperti perhiasan, jam tangan dan apapun itu. 


Setidaknya Hari Valentine (melalui media, tentunya) sudah berhasil membangun mindset orang kalau :

1. Hari kasih sayang itu harus dirayakan dengan suatu seremonial atau penyerahan suatu benda yang menunjukkan kasih sayang.

2. Semakin besar/mahal/fancy/ mewah/romantis hadiahnya, semakin besar rasa cinta pasanganmu.

What the hell?  aku pikir cinta adalah ekspresi atau ungkapan manusia dalam menunjukkan ketertarikan, empati kepada seseorang. Lalu esensinya dimana dong, kalau rasa cinta itu dilambangkan dengan barang. Apakah tidak cukup telinga yang selalu mendengar sambatan kita? Apakah masih kurang rasa peduli seseorang ketika kita butuh bantuan? Oh iya, saya lupa satu hal. Setidaknya cinta itu bisa dibedakan, menjadi cinta yang politis (ada maksud, dan kepentingan) dan cinta yang natural (biasanya sih  rasanya seketika datang, seketika pergi, tapi natural, karena ada hormon yang bekerja didalamnya. jadi alami, dan lebih ke ekspresi yang seadanya). 


Itulah sebabnya aku selalu berpikir kalau valentine hanyalah perayaan bagi orang-orang yang "punya", baik dari segi keuangan, maupun kepemilikan pasangan. Bagaimana dengan mereka yang hanya memiliki rasa kasih agape maupun kasih philia? Masa ga boleh merayakannya? Ya, boleh-boleh saja, asal cukup uang saja untuk memberikan barang pada orang yang dikasihi. Fokusnya ke merayakannya kan? dengan tradisi yang berjalan sesuai apa kata media kan?


Jadi apakah "merayakan valentine" itu perlu? Untukku? Ga Perlu! Untuk apa, toh setiap hari aku bisa mengekspresikan rasa sayangku ke siapapun yang aku mau. Hari valentine cuma ceremonial, sama dengan hari-hari lainnya, cuma kalau kamu mau cari uang dengan cara komodifikasi cinta, aku pikir itu efektif. Karna bucin di negeri ini masih sok kebarat-baratan dan butuh feed Instagram yang eye catchy gitu. 


Selamat hari komodifikasi cinta. Aku mencintaimu, Kapitalisme!!! Umur panjang CUAN!!



You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Instagram