Sekolah Sihir Penuh Misteri (Review Novel Hex Hall)
09.06Hanya anak-anak spesial yang bersekolah di Hecate Hall, atau lebih populer dengan nama Hex Hall. Merupakan sekolah terpencil khusus para prodigium seperti vampir, werewolf dan penyihir. Sophie salah satunya. Ia merupakan penyihir yang ternyata memiliki darah demon di dalamnya. Kekuatan sihirnya lah yang mengantarkannya ke sekolah ini. Dari murid biasa yang bersekolah di sekolah umum hingga akhirnya ia berakhir di sekolah khusus prodigium itu.
Sophie sendiri tidak tahu bahwa kekuatan sihir yang ia miliki merupakan kekuatan sihir yang luar biasa dan mampu menghancurkan sesuatu. Hingga pada akhirnya terdapat satu geng di sekolah itu yang mendefinisikan diri mereka sebagai penyihir hitam. Elodie dan kedua temannya itu ingin memasukkan Sophie kedalam geng mereka. Namun Sophie menolaknya. Bahkan mereka pun bermusuhan.
Sophie berteman dengan seorang vampir bernama Jenna. Ia merupakan teman sekamar Sophie sewaktu tinggal di asrama Hex Hall. Berbagai masalah terjadi sewaktu ia bersekolah di Hex Hall. Sophie merasa kesulitan dalam mengendalikan kekuatan sihirnya itu. ditambah lagi fakta bahwa ia seperempat demon, yang artinya kekuatan sihirnya itu melebihi kekuatan sihir prodigi pada umumnya, bahkan para penyihir hitam sekalipun masih kalah.
Berbagai kejadian aneh juga menghantui kehidupan Sophie disekolah itu. Mulai dari isu adanya L'Ochio D' Dio atau sebut saja Mata yang mengintai murid-murid di sekolah itu. Atau kisah cintanya pada salah satu siswa di sekolah itu yang merupakan tunangan dari salah satu anggota geng penyihir hitam itu. Rupanya kisah cinta ini juga memperparah permusuhan diantara mereka berdua. lebih dari itu terdapat banyak rahasia hitam yang terdapat di sekolah ini.
Hex Hall merupakan buku pertama dari ketiga seri yang ditulis oleh Rachel Hawkins. Wanita kelahiran Virginia Amerika ini menulis buku pertamanya pada tahun 2010 yaitu Novel Hex Hall ini. novel ini menurut saya sangat menarik dan imajinatif. Tentu saja demikian, sebab tema cerita yang diangkat merupakan karakter-karakter supranatural yang tidak nyata.Novel yang menggunakan setting tempat di suatu sekolah di pulau terpencil yang sangat asing dan mistis. Terkadang sambil membaca novel ini saya membayangkan Hogwarts School, sebab penulis menerangkan bahwa sekolah ini berdiri ratusan tahun silam. Bahkan terdapat hantu-hantu yang berkeliaran di sekolah ini, sehingga rasanya cukup mirip dengan Hogwarts School. Selain itu cerita pada novel ini sarat membuat pembacanya merasakan petualangan yang dialami Sophie Mercer.
Namun sangat disayangkan bahwa buku ini rasanya seperti terinspirasi dari novel Twilight, terlepas dari fakta apakah Rachel Hawkins pernah membaca novel Twilight, atau paling tidak sekedar mengetahui cerita dari Novel tersebut. Novel ini memang mengangkat kisah cinta dan petualangan seorang penyihir muda. Tetapi pada bagian tertentu menerangkan bahwa novel ini sedikit menyinggung mengenai Twilight, yaitu pada bagian di mana Sophie melihat pernak-pernik di kamar Jenna dan menyebutnya sebagai Twilight Zone.
Jalan cerita pada novel ini juga kadang kala dapat ditebak dengan mudah dan kisah cinta yang terjadi dalam novel ini saya rasa cukup mainstream. Lagi-lagi ini yang membuat saya berasumsi bahwa novel ini terinspirasi dari novel Twilight, di mana Sophie Mercer dan Archer Cross mendapat halangan untuk melanjutkan kisah cinta mereka seperti Edward dan Bella pada novel Twilight. Terlebih lagi sosok tukang kebun di Hex Hall yang merupakan seorang pemuda yang tidak terlalu tua dengan usia Sophie, memiliki ikatan khusus yang nantinya akan sangat berpengaruh pada lanjutan novel ini.
Novel ini masih asik dibaca, sebab masih menimbulkan rasa penasaran akan kelanjutan ceritanya. Banyak masalah yang tidak terjawab dan tidak terpecahkan dalam novel ini. oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk membaca seluruh serinya hingga tuntas. karena menurut saya pada novel seri pertama ini hanya merupakan awal dari petualangan luar biasa Sophie.
Jadi intinya, novel ini biasa saja, namun saya mengulas review tentang novel ini sebagai pengantar untuk novel seri kedua yang akan saya bahas pada postingan lainnya. Novel ini menurut saya cukup payah jika hanya dibaca pada seri ini saja. Jadi letak keseruan novel ini akan terasa jika kita mulai menginjak pada novel seri kedua.
Petualangan Sophie Mercer pada buku ini masih sangat biasa. Kisah cintanya dengan Archer masih pada level biasa (sebut saja kacangan). Serta kenakalan-kenakalan yang ia lakukan saat bertengkar dengan Elodie dan gengnya masih normal. Namun bagian akhir cerita ini tidak terlalu mengecewakan sebab terdapat hal tak yang tak terduga seperti saat awal membaca novel ini. Selain itu Akhir cerita pada seri ini membuat penasaran akan petualangan selanjutnya yang diceritakan pada seri novel berikutnya.
Dari range 0-10 saya memberi nilai pada novel ini 7 karena standar sekali tapi berhasil mengajak saya untuk menghabiskan seri-seri berikutnya yang ternyata lebih menarik dari yang saya perkirakan. mungkin novel ini tidak terlalu recomended untuk menemani secangkir cokelat panas di sore hari. Tapi paling tidak, novel ini mampu membuka pintu untuk dua novel lanjutannya yang sangat cocok untuk menemani cokelat panas di cangkirmu. Jadi, masukkan saja novel ini kedalam daftar bacaanmu. Ga rugi kok. Coba saja!
0 komentar