Sepenggal Refleksi Diri di Waisak 2022
02.44Tidak semua cerita bahagia harus diabadikan, dan tidak semua cerita sedih harus dilupakan. Selalu ada masa dimana kamu akan mengarsipkan, atau membuangnya jauh-jauh. Salah satu hal yang membuatku bertahan sampai sekarang adalah proses menyakitkan dari menyembuhkan luka dan melepaskan rasa senang dan kebahagiaan.
Hey, Hari ini 16 May 2022 adalah Hari Raya Waisak. Aku ingin meninggalkan satu catatan dalam blogku, tentang hari dimana seorang Piscessian sedang merasa moody dan malas-malasan. Padahal besok ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi aku memilih untuk menulis pada blog ini dengan harapan bisa berbagi cerita tentang makna Waisak di tahun ini.
Sebenarnya aku sudah menaruh perhatian lama tentang belajar Agama Buddha itu sendiri. Mengingat semasa kuliah aku adalah mahasiswa kepo dan ngeyel, dimana dengan pedenya untuk mengambil mata kuliah agama sebelah. Agama Buddha.
Belajar Agama Buddha di bangku kuliah membuatku belajar banyak hal dalam memaknai hidup. Bagaimana cara berpikirku menjadi berubah. Maklum, terlahir dari keluarga yang beragama samawi, membuatku berpikir bahwa Tuhan pasti ada "di atas" sana. Namun dalam kelas Agama Buddha membuat pikiran ku terbuka. Bagaimana kalau ternyata Tuhan ada di dalam bumi, di dalam setiap diri kita, di dalam setiap mahluk, dan di dalam setiap perjumpaan mahluk hidup?Artinya, Tuhan tidak terbatas, kan?
Refleksi Waisak tahun ini, aku belajar untuk melepaskan. Apa yang sedang ku coba lepaskan? Dalam diri manusia ada aspek ego yang sangat melekat. Dalam ego manusia ada keinginan, ambisi, dan semua itu termanjakan dalam sebentuk ilusi dan imaji pikiran kita. Hal itu diperparah oleh Sosial Media yang seolah-olah membuat imajinasi kita melayang kesana. Membuat diri kita semakin ingin dengan apa yang tertangkap oleh indra manusia. Sialnya rasa ingin tersebut merupakan bagian dari kedukaan itu sendiri. Oleh sebab itu, aku mulai mengurangi bermain sosmed.
Sebenarnya hal ini ada hubungannya dengan Aksi Pra Paskah (APP)-ku kemarin. Aku memilih untuk tidak mengkonsumsi daging dan tidak bermain Instagram selama 40 hari masa Pra Paskah. Termasuk update status. Ya, meskipun tidak sepenuhnya dapat ku cegah, lantaran aku masih sering buka story WhatsApp dan pernah update status WA satu kali dalam aksi Pra Paskah.
Setidaknya dari puasa yang aku jalani, membuatku sedikit tahu diri untuk tidak mengikuti kemauan dan egoku yang aneh-aneh itu. Aku berusaha menjalani hidup menjadi manusia yang ga banyak tingkah dan ga banyak mulut. Dengan mengurangi akses media sosialku, aku jadi belajar untuk lebih low profile. Ga banyak pamer, caper, dan membangkitkan imajinasiku tentang keinginan-keinginanku. Sosial Media dan segala algoritmanya sangat tidak membantuku untuk melepaskan nafsu duniawiku. Hasrat ingin memiliki yang ada padaku bisa semakin tinggi karena adanya sosial media.
Sejalan dengan teori Simulakra Jean Baudrillard, dimana sekarang ada banyak cara untuk mensimulasikan suatu imaji manusia. Hal itu dapat dituangkan dalam berbagai bentuk. Karya seni, pakaian, desain bangunan, bahkan sosial media mampu mensimulasikan hasrat manusia itu. Itulah mengapa, menghentikan akses media sosial adalah cara terbaik untuk mematikan imajinasiku tentang angan-angan yang aku miliki. Bukan berarti lantas aku mematikan cita-citaku juga. Hanya saja membatasi, agar lebih realistis.
Kedua, aku ga makan daging selama Aksi Pra Paskah. Hasil yang kuperoleh selain penghematan total dalam pengeluaranku, aku juga belajar untuk mengendalikan hawa nafsu kedaginganku. Ada hari dimana aku pengen banget makan McD Double Cheese Burger, tapi aku berusaha untuk menahannya. Hal yang membuatku bertahan untuk tidak makan McD adalah bagaimana otakku berpikir untuk mempertanyakan esensi dari makan di McD.
Sama halnya dengan yang pernah terjadi padaku sewaktu di Ternate. Pernah suatu hari aku pengen banget makan gohu ikan. Waktu itu aku sedang ga ada pantangan apapun, dan ga ada niat puasa apapun. Seharusnya aku fine-fine saja untuk makan apapun, kan? Tetapi entah dari mana aku berpikir begini, "Lha terus kalau aku sudah makan gohu ikan, apa lagi? Toh makan, ga makan gohu ikan, ujung-ujungnya jadi feses juga kan? Hal itu lah yang kulakukan untuk mengingatkan diri agar kuat ga makan McD sampai akhir puasa. Itupun berefek sampai sekarang. Aku jadi biasa aja makan McD. Padahal dulu sepulang dari Ternate dan Pinrang, hampir seminggu sekali aku makan McD saking senengnya. Apa lagi beli pakai duit sendiri. Sekarang? So, what! Jangan jipang Bu Mimi di deket kantor pun, sama enaknya dengan McD.
Tapi tanpa aku sadari, ketika aku ga makan daging, aku sudah menerapkan salah satu sila dari Pancasila Buddhis, yaitu Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi, yang artinya bertekad untuk menghindari pembunuhan mahluk hidup. Well, oke juga sih tindakan ini.
Refleksi Waisakku untuk tahun ini sebenarnya lebih ke membatasi keinginan aneh-aneh dalam diriku. Namun disatu sisi aku masih harus tetap mengejar ambisiku. Baik menjadi pekerja NGO yang disiplin, taat, dan rajin (namun sialnya aku moody), ataupun menjadi mahasiswa S2 di Belanda (Baik di Leiden University maupun University of Amsterdam). Melepaskan rasa “ingin yang berlebihan” akan mengajarkanmu untuk bersyukur dan menikmati setiap proses belajar dalam hidupmu.
Selamat merayakan Waisak 2566 BE. Selamat mencari dan mencapai pencerahan masing-masing. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua mahluk berbahagia. Sadhu sadhu sadhu.
0 komentar