Cerita Dari Dalam Kamar IV
08.02Malam ini aku tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk menulis cerita saja. Setelah apply beberapa pekerjaan, aku masih belum bisa tidur dan dengan kondisi terjaga seperti ini, akan lebih menyenangkan jika bisa bercerita dari dalam kamar. Iya, masih di dalam kamar. Meski New Normal sudah mulai diterapkan, tetapi apa boleh buat, aku masih terkurung di rumah sendiri, di dalam kamar. Menunggu perpustakaan UGM buka.
Malam ini aku ingin bercerita, tentang bagaimana rasanya menjadi 'mati rasa'. Kemarin aku ditelpon sama temanku. Dia bercerita tentang hari-harinya selama pandemi, selama WFH (dia beruntung, karena masih bisa bekerja), dan menjalani semua kegiatannya di rumah. Temanku bercerita, ia ada sedikit masalah dengan orang tuanya, yang membuat dirinya kesal dan seolah-olah mati rasa. Dia menggunakan istilah dalam Bahasa Inggris, numb. Rasanya seperti tidak ingin melakukan apa-apa. Merasa bosan dan tidak ada harapan namun juga tidak dapat melakukan apa-apa. Sehingga mati rasa itu muncul.
Demikian juga denganku. Aku sempat merasakan hal itu sebelumnya. Ketika aku kecewa membuka email dan menemukan balasan dari lamaran-lamaran pekerjaanku yang ditolak. Awalnya aku semangat, namun di satu titik aku menjadi jenuh, bosan, putus asa, namun tidak banyak yang dapat aku lakukan. Apakah lantas aku berhenti sampai di situ? Tidak, aku tetap melamar pekerjaan, namun tidak se rajin sebelumnya. Awalnya aku juga bersemangat mengikuti latihan dan mencari tahu tentang SEO dan belajar hal baru apapun yang dapat aku pelajari secara online. Namun karena aku sudah mulai jenuh, ditambah dengan hasil yang mengecewakan berkali-kali. Aku pun menyerah, dan memilih untuk bermain game seharian. Membuang rasa bosan karena terkurung di dalam rumah, sekaligus melarikan diri dari kenyataan, bahwa aku masih belum mendapat pekerjaan.
Ada rasa sedih dan sakit hati tersendiri ketika kamu dikelilingi teman-teman yang sudah bekerja, sudah mulai meniti karir. Sedangkan kamu masih di rumah, ikut orang tua dan mencari-cari perusahaan yang sekiranya sudi menerimamu bekerja. Rasanya aku seperti beban bagi keluargaku, atau suatu produk gagal, karena dikelilingi teman-teman yang memiliki kesibukan pekerjaan. Ada rasa iri memang, namun apa lagi yang dapat kuperbuat. Pandemi ini mungkin tidak akan berakhir dan di luar sana pasti masih ada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan bukan? Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa banyak perusahaan di luar sana yang membutuhkan karyawan baru? Lalu, apakah aku akan termasuk dalam kriteria mereka? Aku masih mencari dan terus mencari, meski tidak serajin sebelumnya, setidaknya hingga rasa sakit hatiku sembuh dan aku bisa mulai mencari lagi.
Hidup memang bukan sekedar mencari validasi dan berlomba jadi asri, kalau kata Hindia. Tapi percayalah, ketika kita berhasil menjadi asri dan mendapat validasi, bukankah itu pertanda bahwa kamu adalah manusia yang berhasil? Kamu tidak perlu bergantung pada orang lain lagi, atau setidaknya keberadaanmu menjadi lebih berarti, karena ada yang membutuhkan jasamu. Jadi, untuk kalian yang diluar sana masih berjuang mencari pekerjaan, percayalah bahwa pengalaman ini akan mendidikmu untuk bersyukur atas pekerjaan yang akan kamu dapatkan nanti.
0 komentar